Tahun 2020 adalah awal mula kekacauan medis terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh status pandemi COVID-19 yang merambah dunia. Apakah itu COVID-19? Mengapa hingga saat ini belum ada penanganan yang efektif untuk mencegah, malahan muncul berbagai galur baru?

Corona Virus Disease (COVID)-19 adalah penyakit yang menyerang sistem pernafasan dan disebut sebagai penyebab kematian yang mengerikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus Sarscov-2, yang merupakan “mutasi” dari virus Sarscov penyebab wabah SARS dan MERS di sekitar tahun 2002 dan 2012. Virus-virus ini memiliki bentuk protein pelindung seperti mahkota (crown/corona), di mana spike pada Sarscov-2 lebih rapat daripada Sarscov sehingga lebih mudah melekat pada inang atau permukaan benda.

Pada dasarnya, virus yang sudah mengalami adaptasi berkali-kali, hingga mengalami perubahan protein pelindung, akan cenderung memiliki kelemahan yang lebih besar. Sebagai contoh, meskipun Sarscov-2 lebih mudah melekat pada inang dan permukaan benda, protein pelindungnya lebih mudah rusak hanya dengan memaparkannya pada cairan antiseptik, alkohol, sabun, dan bahkan cahaya matahari. Ketika protein pelindungnya rusak, ikatan RNA virus akan terurai dan inaktif.

Sarscov-2 berpindah di dalam cairan mikro (droplet) yang berasal dari mulut dan hidung orang yang sedang terinfeksi. Pada tubuh orang yang terinfeksi, virus akan bereplikasi atau memperbanyak diri di dalam sel yang memiliki reseptor ACE2. Virus kemudian menyerang organ paru-paru dan menyebabkan lendir pekat yang menyebabkan penderita sesak nafas.

Orang yang terinfeksi dan mengalami replikasi virus akan menunjukkan gejala berupa demam, batuk, pilek, sesak nafas, yang serupa dengan pelbagai penyakit pernafasan lain seperti TBC, Flu, dan Pneumonia. Oleh karena virus Sarscov-2 dan virus-virus pernafasan lainnya berpindah inang melalui droplet dari hidung dan tenggorokan orang yang terinfeksi dan menunjukkan gejala sakit, orang tersebut seharusnya berada di dalam rumah untuk beristirahat hingga sembuh sehingga tidak menularkan penyakitnya pada orang lain.

Sesungguhnya, setiap penyakit yang disebabkan oleh masuknya patogen seperti virus dan bakteri, bisa diatasi oleh pasukan imunitas tubuh. Sejak patogen menempel pada sel epitelial, seperti kulit dan mukosa, sel-sel akan saling mengkomunikasikan bahwa ada benda asing yang harus diwaspadai. Bila benda asing atau patogen tersebut melakukan pengrusakan pada sel dan sekelilingnya, maka sel itu sendiri akan melepaskan pertahanan berupa sitokin , yang juga akan berkomunikasi dengan sel lain dan pusat imunitas tubuh

Sitokin adalah satu dari sekian banyak imun bawaan (innate immunity) yang bersiaga menjaga ketahanan tubuh dari benda asing atau serangan patogen. Bila tubuh kita sedang bereaksi terhadap patogen, alarm berupa demam dan indikasi lainnya seperti batuk dan lendir berlebih akan mewujud sebagai gejala sakit pada tubuh kita. Dalam keadaan ini, jika tes antibodi, seperti Rapid Test Antibody dilakukan maka hasil akan menunjukkan IgM REAKTIF (Garis muncul pada huruf C dan IgM)

Antibodi bawaan akan bekerja terus sementara antibodi adaptif diproduksi dalam kelenjar timus. Antibodi adaptif merupakan kekebalan spesifik dengan mengacu pada penampakan dan sifat patogen yang menyerang, dan oleh karenanya akan jauh lebih efektif dibandingkan antibodi bawaan. Antibodi adaptif akan menggantikan tugas antibodi bawaan dalam kurun waktu 5-7 hari setelah gejala sakit timbul, dan akan bekerja efektif dalam 7-14 hari untuk menonaktifkan patogen.

Bila Rapid Test Antibody dilakukan pada saat antibodi adaptif bekerja, maka hasil yang ditunjukkan adalah IgG REAKTIF (Garis Muncul pada huruf C dan IgG). Kondisi ini menunjukkan bahwa seseorang yang dipindai sudah memiliki kekebalan aktif terhadap virus. Antibodi adaptif bisa bertahan selama virus masih ada, di mana titernya akan menurun seiring dengan penurunan jumlah virus.

Apakah dengan penurunan jumlah antibodi adaptif maka kita akan rentan dan bisa langsung kolaps ketika terjadi infeksi ulang ( re-infection)? Tentu tidak. Tubuh manusia dengan sistem imunitasnya yang kompleks memiliki apa yang disebut sebagai sel memori. Sel memori ini menyimpan semua data-data patogen yang pernah masuk dan/atau menginfeksi tubuh. Ketika terjadi infeksi ulang, sel yang berkenaan dengan patogen akan langsung bereaksi dan memancing antibodi adaptif untuk keluar dan memerangi patogen tersebut. Bilamana pada infeksi pertama seseorang bisa mengalami gejala sakit selama 3×24 jam atau lebih, pada infeksi ulang tubuh hanya akan mengalami gejala selama 1×24 jam atau bahkan kurang.

Jadi, apa yang ditakuti selama ini hingga membuat aktivitas kita nyaris berhenti?

(Bersambung)