TENTANG KAMI

Hallo Para Sobat OjoKepo,

Tak kenal maka tak sayang #klasikbangetya

Sobat pasti sudah baca salam perkenalan kami, dan sedikit tahu tentang kami. 

Tapi mungkin Sobat masih menyimpan banyak pertanyaan, seperti ngapain ojokepo.com dibuat? Siapa actors behind the scene? Dan mungkin pertanyaan-pertanyaan lain.

Oke, kami akan menjawab sedikit pertanyaan yang sampai kepada kami.

Mengapa “ojokepo”

Banyak sekali versi tentang detail arti kepo. Ada yg bilang KEPO singkatan dari Knowing Every Particular Object, ada yang bilang kepo berasal dari Bahasa Hokkian: Ke (bertanya) + Po (Apo=Nenek). Jadi Kepo berarti seperti nenek-nenek yang suka bertanya. Bahkan ada yang bikin plesetan, kepo = Ke’ polisi (kaya’ polisi = seperti polisi yang suka menginterogasi). Apa pun versinya, secara singkat dapat kita sepakati bahwa kepo artinya serba ingin tahu.

Jadi ojo kepo berarti jangan (dlm Bahasa jawa = Ojo) serba ingin tahu. Lho, bukannya keingintahuan itu awal dari pengetahuan? Tepat sekali. Sama sekali tidak salah. Tapi kepo lebih pada ingin tahu hal-hal kecil yang bukan menjadi urusan kita. 

Di sini, kami ingin Sobat OjoKepo bukan sekedar memuaskan rasa ingin tahu, tapi lebih untuk ikut berpikir, menganalisa, berdiskusi melalui Obrolan yang Joss, Keren, dan Paling Oke. Nah kan…OjoKepo lagi jatuhnya…hahahaha….

Siapa di balik ojokepo? Mengapa memakai nama pena?

Kami hanyalah sekumpulan individu yang gemar menulis dan senang ngobrol dengan pembaca. 

Ketika kami tidak memakai nama asli, melainkan menggunakan hanya nama pena, Sobat OjoKepo boleh berspekulasi apa saja. Semua sah-sah saja. Namun, alasan sesungguhnya sangatlah sederhana. 

Seringkali ketika kita membaca, obyektivitas kita terhadap isi berita lebih dipengaruhi oleh siapa yang menulis, daripada oleh logika dan argumen yang membentuk artikel. Di sini, kami tidak ingin demikian. Kami ingin Sobat OjoKepo ikut masuk ke dalam logika dan argumen penulis, tanpa melihat siapa penulis dan apa latar belakangnya. 

Kenapa nggak pakai satu nama redaksi saja kalo gitu? Setiap kami punya ciri khas masing-masing dalam menulis. Kami tidak ingin melebur keragaman itu di bawah satu nama “redaksi” dan kami memberi kesempatan kepada Sobat OjoKepo untuk mengagumi satu-dua bahkan lebih penulis berdasarkan ciri khas mereka dalam menulis, bukan karena mereka cantik atau ganteng, gagah atau langsing. 

Alasan lainnya, dengan memakai nama pena, kami senantiasa disadarkan bahwa jika kami dikagumi melalui ojokepo.com, itu adalah karena tulisan kami, bukan karena hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan tulis-menulis. Di dunia nyata, bolehlah kami dikenal karena kompetensi kami di bidang lain.

Apa tujuan ojokepo?

Tujuan kami juga sangat sederhana. Kami mau berbagi. Kami mau ngobrol. Tapi bukan ngobrol sembarangan dan akhirnya malah jadi hoax. Kami ingin berbagi obrolan yang cerdas dan sehat. 

Ingin menjadi besar, nggak? 

Menjadi besar dan terkenal tentu membanggakan. Namun bukan itu tujuan kami. Kami bukan mau bersaing dengan situs-situs yang telah memiliki ribuan bahkan jutaan penggemar. Tidak, sama sekali tidak. Kami gemar menulis sesuai dengan idealisme kami. 

Kenapa nggak gabung aja dengan situs-situs blog keroyokan yang sudah ada? Toh ada situs blog keroyokan yang tujuan dan semangatnya sama kan? 

Benar sekali. Tapi seperti banyak jalan dan cara menuju Jakarta, demikianlah juga mengapa kami memutuskan membangun situs ini. Mungkin ada yang senang ke Jakarta naik pesawat, ada yang senang naik kereta api, ada yang senang naik kapal laut. 

Kami di sini lebih senang menuju tujuan kami dengan bersepeda. Lambat memang, tapi lebih menyehatkan dan dengannya kami bisa lebih menikmati pemandangan selama perjalanan. 

Apakah tidak ada konflik dan perbedaan di antara kami? 

Tentu ada. Bahkan kadang kami harus bertengkar sampai baper. Namun kami tetap ingat tujuan utama kami. Itulah yang membuat kami bisa terus berjalan. Jika pun ada di antara kami yang tidak sejalan, kami sepakat untuk membuat sebuah perpisahan yang  baik, yang tidak meninggalkan luka. Kami tetap ingat, tujuan kami sama, mungkin jalan yang kami tempuh berbeda. Itu saja.